Takut

Aku berkutat dengan takut yang seribu. Takut dengan mungkin yang tidak jelas berkepihakannya. Takut dengan kau yang akan membawa kabar hanya. Takut dengan apa yang disudahkan tanam selama, kepada pantai, sawah hijau permai dan kopi. Yang akhirnya melebur menjadi partikel-partikel dan hilang. Takut dengan candu yang tak pernah ada selesai. Atas rindu yang masih terindependensi, … Lanjutkan membaca Takut

Tempat pelarian

Keterkungkungan pribadi dalam idealisme yang bercorak imajiner. Dan kekejaman realitas atas segala kehendak. Kau mengajakku lari, mencari realitas baru, atau mungkin suatu realitas lain yang dimana menjadi persinggahan untuk sesuatu yang Maya. Dengan realitas berbentuk air dan gelombangnya, hamparan pasir yang berkubik penuh, atas hasil kesepakatan orang-orang dahulu tentang bahasa, mereka menamakan. Pantai. langit yang … Lanjutkan membaca Tempat pelarian

Lebih sederhana

Hujan, disiang bolong begini. Padahal begitu teriknya tadi. Lekaslah, kita harus menggulung padi didepan emperan rumah yang tidak seberapa. Setelah panen kemarin. Sesudah itu, kulihat kuyup wajahmu. Dimana bercampur satu keringat dan air dari sisa hujan. Kuseka dengan jemari yang kau rasakan kasarnya. Diteras rumah diantaranya dua kursi dan meja. Hujan begitu betah menunggu kita, … Lanjutkan membaca Lebih sederhana

Ingin pulang

Aku ingin pulang. Untuk sekedar melepas rindu yang matang, atau hanya untuk pelarian dari sesaknya kota. Aku ingin pulang. Untuk segala asa yang di pikul untuk pertanggungjawaban, atau hanya untuk bersiul, senyum yang simpul dan bermalas-malasan. Tapi. Aku juga ingin kembali. Untuk menanam lagi rindu, untuk secangkir kopi bersamamu. Aku juga ingin kembali. Untuk kata … Lanjutkan membaca Ingin pulang

Nyanyian dini hari

Bundar, matamu dan seperangkatnya. Mengikuti aku, dimana pandang mu lari. Dengan instrumen yang selaras pada malam, kopi semimu dan manis yang kentara. Aku tahu karena bibirmu terdapat sisa. Serumpun bicaramu dibawah temaram lampu yang kekuningan. Lembaran yang masih kau upayakan. Rikuh, seperti bahasamu, dikandung badan. Mungkin juga kau. Tiba satu masa, ingin aku. Lagi pada … Lanjutkan membaca Nyanyian dini hari

Sepatu tua

Dinda, saat kaki ini mulai bertelusur jalan yang hitam, yang selalu ramai riuh kenalpot dari bermacam muara. Dengan sepatu usang sudah tua. Birunya yang sudah kelabu, putih yang sudah tidak putih. Tali menyilang sepasang. Tak apa Dinda.  Bersamanya aku menjemputmu. Di rumah bertiang bambu di dekat sawah yang menyendiri dari gedong megah. Sepanjang jalan hitam … Lanjutkan membaca Sepatu tua