Kupu-kupu malam

Kupu-kupu. Puku-puku. Upuk-upuk. kupu-Kupu. Kupu-kupu. Malam. Terbang kepada ku, kala itu. Bercerita tentang bias remang hidup. Dan berbisik tentang rindu akan cintanya yang utuh. Karena orang menganggap cintanya tak lebih besar dari besarnya payudara. Karena orang menganggap, cintanya tak lebih dalam dari dalamnya vagina. Busuk mulut orang-orang itu, omongannya seakan suci. Toh ketika ku sodorkan … Lanjutkan membaca Kupu-kupu malam

Iklan

Ibu paruh baya

Sudah paruh baya, ibu itu. Tinggal dibelakang hotel, yang reot, persinggahannya. Ladang untuk memenuhi pokok kebutuhan, buruh cuci ia sebagai, dihotel sebrang itu. Keluh berpantang, ia terima nasib, atau ia salah memilih jalan. Sudah sangat biasa, kerap sudah sangat sekali. Ketika mencuci. Ia harus membersihkan bekas, bercak, noda. Putih, kadang merah, ada. Ia harus menghilangkan … Lanjutkan membaca Ibu paruh baya

Sudah sejak saat itu

Sudah sejak saat itu, kau nyatakan berat tentang rindu. Tentang makna revolusi dewasa ini yang abu-abu. tentang hujan yang tak kunjung menyambangi langit Yogjakarta. Dan tentang satu kesepakatan. Awalnya mendung lalu gerimis menjadi deras, saat sore. Aku yakin kau pasti kecewa karena. Padahal kemarin kau menanyakannya. Yang abu-abu semakin abu-abu, dan kau tak mendapatkan senja … Lanjutkan membaca Sudah sejak saat itu

Takut

Aku berkutat dengan takut yang seribu. Takut dengan mungkin yang tidak jelas berkepihakannya. Takut dengan kau yang akan membawa kabar hanya. Takut dengan apa yang disudahkan tanam selama, kepada pantai, sawah hijau permai dan kopi. Yang akhirnya melebur menjadi partikel-partikel dan hilang. Takut dengan candu yang tak pernah ada selesai. Atas rindu yang masih terindependensi, … Lanjutkan membaca Takut

Tempat pelarian

Keterkungkungan pribadi dalam idealisme yang bercorak imajiner. Dan kekejaman realitas atas segala kehendak. Kau mengajakku lari, mencari realitas baru, atau mungkin suatu realitas lain yang dimana menjadi persinggahan untuk sesuatu yang Maya. Dengan realitas berbentuk air dan gelombangnya, hamparan pasir yang berkubik penuh, atas hasil kesepakatan orang-orang dahulu tentang bahasa, mereka menamakan. Pantai. langit yang … Lanjutkan membaca Tempat pelarian

Lebih sederhana

Hujan, disiang bolong begini. Padahal begitu teriknya tadi. Lekaslah, kita harus menggulung padi didepan emperan rumah yang tidak seberapa. Setelah panen kemarin. Sesudah itu, kulihat kuyup wajahmu. Dimana bercampur satu keringat dan air dari sisa hujan. Kuseka dengan jemari yang kau rasakan kasarnya. Diteras rumah diantaranya dua kursi dan meja. Hujan begitu betah menunggu kita, … Lanjutkan membaca Lebih sederhana

Ingin pulang

Aku ingin pulang. Untuk sekedar melepas rindu yang matang, atau hanya untuk pelarian dari sesaknya kota. Aku ingin pulang. Untuk segala asa yang di pikul untuk pertanggungjawaban, atau hanya untuk bersiul, senyum yang simpul dan bermalas-malasan. Tapi. Aku juga ingin kembali. Untuk menanam lagi rindu, untuk secangkir kopi bersamamu. Aku juga ingin kembali. Untuk kata … Lanjutkan membaca Ingin pulang